Sejarah NW di Kaltim

Menurut sejarahnya bahwa Nahdlatul Wathan hadir di Kalimantan Timur dibawa oleh murid-murid TGKH. Zainuddin pada tahun 1980an. Mereka sengaja diutus untuk mendirikan dan membentuk kepengurusan NW di Kaltim mengingat banyaknya abituren dan para alumni madrasah NW yang ikut di dalam program transimigrasi. Para utusan tersebut datang ke Samarinda dan Kutai Kartanegara karena daerah ini merupakan basis transimigran asal Lombok yang tersebar di beberapa kecamatan seperti Tenggarong Seberang Muara Kaman, Kota Bangun, Sambera, Bantuas dan lain-lain. Utusan ini diterima oleh beberapa tokoh dari Samarinda seperti Alimuddin Salim, Drs. H. Muhammad Zainuddin, Drs. Abdul Hamid, dan Drs. H. L. Muhammad Thamrin. Menurut Alimuddin bahwa utusan tersebut menginginkan orang yang duduk di kepengurusan NW bukan dari kalangan PNS.
 
Kepengurusan NW pada awal-awal kedatangannya bersifat pengurus perwakilan. Beberapa sumber mengatakan bahwa secara organisatoris kepengurusan perwakilan ini belum berjalan sebagaimana mestinya, tetapi secara kultural sudah mulai melakukan kegiatan termasuk hiziban dan membangun madrasah. Hal ini juga disebabkan oleh minimnya infrastruktur di daerah Tenggarong Seberang yang belum memiliki listrik dan jalan yang beraspal. Kurangnya figur sentral agama di komunitas mereka mendorong masyarakat Tenggarong Seberang untuk mencari tokoh panutan yaitu KH. Ahmad S. Karim dari Banjar Masin. Beliau inilah yang banyak berjasa membantu masyarakat transimigran asal Lombok dan memfasilitasi mereka untuk membuat masjid dan madrasah. KH. Ahmad S. Karim adalah pembina Yayasan Al-Khairiyah yang banyak memainkan peran penting dalam pembangunan masyarakat Kaltim. Hubungan inilah yang terus terjaga hingga sekarang dilanjutkan oleh putra beliau yaitu H. Muhammad Taufik ASK.

Untuk memajukan organisasi NW pada level yang lebih baik maka perlu diubah statusnya menjadi pengurus wilayah. Sebelum membentuk pengurus wilayah beberapa tokoh Lombok diantaranya Drs. H. L. Muhammad Thamrin, Alimuddin Salim, SH, ST, Idrys Kadir, H. L. Surapati Idrys, H. Agus Kande, Drs. H. Abdul Hamid, Drs. Muhammad Zainuddin, dan Ali Murtadho terlebih dahulu menggagas pendirian paguyuban yang dikenal dengan Kerukunan Keluarga Gumi Gora (KKGG) pada tahun 1990an. Ini dimaksudkan sebagai payung besar dan cikal bakal organisasi NW dan juga untuk menampung teman-teman yang berada di luar NW dan luar suku Sasak. Ketua KKGG pada waktu itu adalah Drs. H.L. Thamrin dan sekretarisnya adalah Alimuddin Salim, SH, ST. Pada tanggal 2 Juli 992 nama KKGG diubah menjadi Kerukunan Keluarga Sasak Lombok (KKSL) yang diketuai oleh H. Agus S. Kande hingga sekarang. 

Setelah KKGG dibentuk baru kepengurusan NW di tingkat wilayah juga dirancang. Yang menjadi ketua wilayah NW pertama kali adalah adalah Drs. H. L. Muhammad Thamrin dan sekretarisnya adalah Drs. H. Zakaria Said. Setelah beliau wafat diganti dengan H. Agus S. Kande sebagai ketua wilayah dan sekretarisnya adalah Drs. H. Zakaria Said. Setelah itu Drs. H. Zakaria Said terpilih menjadi ketua hingga 2011. Setelah habis masa kepengurusan Drs. H. Zakaria Said, maka dilakukan musyawarah dan konsolidasi pengurus di Rumah Makan Dafoer Abah pada tanggal 19 Februari 2012. Pada musyawarah tersebut dibentuk kepengurusan baru priode 2012-2017 yang diketuai oleh Alimuddin Salim, SH, ST dan DR. Saipul Hamdi, MA selaku Sekretaris. Sedangkan di daerah Kukar juga dibentuk pengurus daerah NW yang digagas oleh tokoh-tokoh NW diantaranya Drs. H. Muhammad Zainuddin, Zaki Yuddin Mair, M.Si, H. Abdul Wahid, dan H. Habib Ya’kub.

Sejak kehadiran NW di Kaltim ia telah memainkan peran yang signifikan baik di bidang pendidikan, sosial dan keagamaan (dakwah). Peran di bidang pendidikan dapat dilihat dengan berdirinya madarah-madrasah NW di beberapa kabupaten di antaranya adalah Madrasah Aliyah Al-Ikhlas Nahdlatul Wathan yang berlokasi di L3, Tenggarong Seberang. Madrasah ini didirikan pada tahun 1994 oleh tokoh-tokoh NW seperti TGH. Habib Ya’kub, Abdul Maaz, Muriah, Mukhlas, Ust. Fauzan Mansur, Fartiah dan Drs. H. Muhammad Zainuddin. Jumlah siswa di madrasah ini adalah 200 orang mulai dari tingkat Tsanawiyah dan Aliyah. Lokasi madrasah ini sangat menarik karena dikelilingi oleh perusahaan batu bara dan tempat lokalisasi sehingga perannya sangat penting di komunitas tersebut.

Sedangkan madrasah yang lain adalah madrasah ibtida’iyah dan tsanawiyah Darul Mujahidin NW di L4, Tenggarong Seberang. Madrasah ibtidaiyah ini telah dibangun sejak 1984, sedangkan madrasah tsanawiyah didirikan pada tahun 1996. Di antara pendiri madrasah ini adalah H. Abdul Wahid, H. Kamaruddin, Khalidi, H. Syahdan Husain, dan Saini Sidiq. Jumlah siswa di tsanawiyah adalah 66 orang terdiri dari 34 laki-laki dan 32 perempuan. Jumlah gurunya sebanyak 17 orang terdiri dari 11 lelaki dan 6 perempuan dengan jumlah gedung dua unit. Adapun tingkat ibtidiyah jumlah siswa adalah 135 orang terdiri dari 78 laki-laki dan 57 perempuan. Jumlah guru di sekolah ini adalah 11 orang terdiri dari 2 lelaki dan 9 perempuan dengan jumlah gedung 3 unit. Adapun tingkat TPA di kelas A jumlah siswa sebanyak 18 orang terdiri dari 7 perempuan dan 11 laki-laki. Sementara kelas B jumlah siswa sebanyak 31 orang terdiri dari 14 laki-laki dan 17 perempuan. Adapun jumlah total siswa di TPA adalah 49 orang dengan jumlah guru 4 orang dan 1 unit gedung.

Selain itu terdapat juga SDI Hasaniyah NW di L3 yang didirikan oleh tokoh-tokoh NW. SDI ini dibangun pada tahun 2004 oleh tokoh-tokoh NW di antaranya adalah H. Abdullah, H. junaidi, H. Syahrul Anam, H. Habib Ya’kub dan M. Syukri. Jumlah siswa di sekolah ini sebanyak 114 siswa dengan 13 guru. Madrasah NW yang lain adalah madrasah tsanawaiyah Hubbul Wathan NW yang didirikan pada tahun 1993 di desa Padang Pengrapat, Tanah Grogot, Kabupaten Paser. Pimpinan madrasah ini adalah Ust. Mursal. Di antara tokoh-tokoh yang ikut mendirikan madrasah ini adalah L. Masud, Parman, Ust. Mursal, Rahmadi, Abdul Kadir, Isnun. Jumlah siswa pada tahun ajaran 2011/2012 adalah 77 orang dengan jumlah guru 14 orang. Sedangkan di Berau tokoh-tokoh NW juga mendirikan madrasah Al-Istiqomah NW yang diketuai oleh Ust. Masri. Madrasah ini terletak di Labanan, Kec. Teluk Bayur. Madrasah ini mulai dibangun tahun 2009 dan dinyatakan sebagai madrasah yang paling cepat pembangunannya tanpa bantuan pemerintah. Walaupun tergolong baru madrasah ini mengalami perkembangan yang cukup pesat. Para pengurus mampu menggaji guru-guru di madrasah sesuai dengan standar dan perekrutan mereka dilakukan secara profesional. Selain gaji yang standar, para guru juga diberikan bonus sesuai dengan dedikasi dan prestasinya selama mengajar.

Di bidang keagamaan NW juga dipandang sukses memainkan peran penting di dalam pengembangan keagamaan dan dakwah di Kaltim. Masyarakat Lombok yang memiliki tradisi pengetahuan keagamaan yang kuat memberikan dampak yang positif terhadap proses islamisasi. Akulturasi budaya dan integrasi keagamaan dan perkawinan lintas etnis juga menjadi faktor penting kesuksesan islamisasi masyarakat lokal di beberapa daerah di Kaltim. Pada umumnya sebagian besar warga Lombok di Kaltim berprofesi sebagai guru agama dan bekerja di departemen keagamaan seperti di KUA, DEPAG dan guru di pesantren. Paham keagamaan yang menggunakan mazhab Syafi’I sangat cocok dan cepat diterima oleh masyarakat Kaltim yang majoritas masyarakatnya berafiliasi ke Nahdlatul Ulama. Jika dirunut dari sejarah tradisi keagamaan di Kaltim yang didominasi oleh para da’i dari Banjar memperlihatkan adanya hubungan yang dekat dengan tradisi NW karena pendiri NW TGH. Zainuddin dan beberapa Kiai dari Banjar pernah belajar bersama-sama di Mekkah tepatnya di madrasah Shaulatiyah.

 
Artikel

Update: 2014-01-19 01:47:58
Silaturahmi PBNW Pusat ke Kaltim
Update: 2013-06-03 19:51:31
Sekjen NW Bersama Akbar Tanjung


Agenda

Update: 2013-03-14 22:43:33
Seminar Nasional
Update: 2013-03-14 22:41:19
Kaltim Berhizib
Update: 2013-03-14 22:40:21
Pelantikan Pengurus Tingkat II
Update: 2013-03-14 22:39:50
Rakerwil
Update: 2013-03-14 22:39:12
Konsolidasi Pengurus Daerah